Senin, 01 Juni 2009

LASKAR PELANGI


Pemutaran film di fasum PBL II, RW. III yang disponsori oleh Dewan Pendidikan Kota Batam dengan SABAS ( Siap Aktif Bantu Sekolah ) pada hari Sabtu, 25 April 2009 bisa memberikan hiburan segar dan gratis. Kisah tentang anak-anak Melayu yang bersekolah di SD Muhammadiyah, sebuah sekolah kampung yang miskin di Belitong-pun terpampang di layar lebar di fasum PBL II, RW. III. Meski keadaan tak bersahabat, anak-anak Melayu di Belitong, Ikal, Lintang, Mahar, Syahdan, Borek, Kucai, A Kiong, Sahara, Trapani, Harun, Flo, dan A Ling yang dijuluki Laskar Pelangi oleh gurunya Bu Muslimah itu tak pernah menyerah. mereka tetap bersemangat dalam menjalani hidup dan berjuang meraih cita-cita.

Contohnya Lintang, ia dengan senang hati bersepeda 80 kilometer pulang pergi ke sekolah untuk menimba ilmu. Selain bersepeda dengan jarak yang jauh, Lintang juga harus melewati hutan. Tidak jarang di hutan itu, ia dihadang buaya ganas yang siap menyantapnya. Adegan demi adegan film terus mengobrak-abrik hati anak-anak Batam yang saat itu jadi penonton film Laskar Pelangi. Mulai dari rasa haru, tawa dan akhirnya berubah menjadi isak tangis.

Gelak tawa anak-anak langsung terdengar di lapangan fasum PBL II, RW.III, saat mereka menyaksikan aksi Lintang dan kawan-kawan yang ikut karnaval dengan rasa percaya diri tinggi, menari bertelanjang dada dengan aksesoris daun-daun di pinggang mereka. Gelak tawa juga terdengar, saat anak-anak PBL II, RW.III menyaksikan Lintang, si anak miskin yang jenius berhitung di luar kepala. Mereka bahkan ikut senang ketika Lintang dan kawan-kawan, terpilih jadi pemenang cerdas cermat antar SD.

Usai banyak adegan kocak yang membuat anak-anak tertawa terpingkal-pingkal, kisah haru pun menyapa semua penonton film Laskar Pelangi. Hampir semua anak-anak terisak haru ketika melihat Lintang si anak miskin yang jenius itu terpaksa berhenti sekolah, karena ayahnya yang seorang nelayan meninggal. Lintang yang masih berusia sangat kecil itu terpaksa menjadi tulang punggung keluarga bagi adik-adiknya karena ibu dan ayahnya telah meninggal dunia.

Cita-cita Lintang sebagai anak lelaki satu-satunya yang mengecap pendidikan, harus kandas karena tanggung jawab mengurus adik-adiknya. Air mata mengalir tidak terbendung ketika Lintang berpamitan untuk terakhir kali kepada bu Muslimah dan teman-temannya, anak-anak Laskar Pelangi.

Walaupun tidak sukses menyelesaikan sekolah, Lintang justru sukses menjadi inspirasi bagi Ikal yang kini bisa melanglang buana ke negeri impian mereka di masa kecil, Perancis. Ikal juga sukses mengarang buku novel Laskar Pelangi. Ikal yang dulu kecil itu adalah Andrea Hirata yang kini juga terkenal seantero Indonesia
Film Laskar Pelangi garapan Mira Lesmana, Riri Riza dan Andrea Hirata merupakan sebuah gambaran kehidupan nyata yang sebenarnya banyak terjadi di lingkungan sekitar kita. Kondisinya yang memperhatinkan dan terhimpit kesulitan ekonomi. Namun dalam situasi tekanan yang sangat berat, anak-anak yang terhimpit kemiskinan harus tetap semangat untuk hidup, belajar, kreatif, dan berani bermimpi untuk maju.

Hidup hendaklah selalu memberi sebanyak-banyaknya, bukan menerima sebanyak-banyaknya”

itulah pesan singkat kepala sekolah kepada anak-anak didiknya, anak-anak Laskar Pelangi tersebut.
Film ini juga jadi fakta, kalau tidak selamanya orang yang dididik dari sekolah hinterland yang miskin, memiliki wawasan yang miskin juga. Laskar Pelangi telah membuktikan, bahwa anak-anak pinggiran tersebut telah sanggup membuka tabir kesuksesan. Dan apakah juga anak-anak Perum Pancur Biru Lestari II juga bisa membuka tabir kesuksesan, semoga film ini bisa memberikan spirit dan inspirasi semua pihak. ( diperoleh dari berbagai sumber )

Tidak ada komentar: