Jumat, 21 Mei 2010

OJO DUMEH

Falsafah hidup Aja dumeh mengajarkan kepada kita sikap rendah hati dan tepa selira. Dalam sebuah masyarakat yang terdiri dari beragam status sosial,kesenjangan seberapa kecilnya pasti ada. Ada yang miskin ada yang kaya. Ada yang pinter ada yang ngga pinter, ada juga yang cakep dan kurang cakep. Sikap Aja dumeh berperan dalam memelihara kerukunan dan tenggang rasa dalam interaksi sosial di kehidupan sehari - hari. Sikap Aja dumeh ini bersumber dari kesadaran bahwa segala sesuatu yang kita miliki adalah titipanNya, yang sewaktu - waktu dapat diambilNya jika kita tidak mampu menjaga amanahNya. Jadi apa harus dibanggakan? Beberapa sikap Aja dumeh yang berguna untuk menjaga kita agar selalu mawas diri dan rendah hati dalam berinteraksi, diantaranya :

Aja dumeh ayu terus kemayu ( Jangan mentang - mentang cantik, terus merasa paling cantik ) Sikap kemayu atau gumagus adalah sebuah sikap yang over-acting dimana menganggap diri paling cakep sedunia. Merasa bangga diri karena menjadi pusat perhatian, lha wong paling cakep je. Sikap ini sangat dekat dengan kesombongan dan takabur. Yakin deh, wong sing kemayu/ gumagus ini ngga akan pernah disukai dalam pergaulan. ( dari berbagai sumber )

Aja dumeh sugih terus semugih ( Jangan mentang - mentang kaya, terus bersikap sok kaya ) . Penyakit semugih sering menjangkiti perilaku kita dalam menggunakan uang. Belanja jor – joran sampai milliaran rupiah bukan berdasarkan kebutuhan, namun semata memuaskan nafsu keinginan belaka. Merasa dengan membeli dan memamerkannya kepada tetangga dan saudara akan menegaskan status sosialnya. Bukankah orang yang suka memamerkan harta bendanya termasuk yang tidak disukai Gusti Allah. Sikap ini condong kepada sifat loba, riya’ dan boros.

Aja dumeh pinter terus keminter. Sikap keminter adalah kita merasa lebih tahu dan menguasai suatu masalah daripada orang lain. Merasa lebih tahu segala persoalan. Sikap keminter ini menutup pendengaran dan hati kita dari input atau nasehat dari luar. Kebiasaan keminter membuat kita meremehkan orang lain dan tidak bisa menerima jika ada yang lebih pinter dari kita. Sikap ini sangat dekat dengan egois dan keangkuhan.

Aja dumeh menang terus sewenang – wenang. Ini tentunya berlaku untuk mereka yang memenangkan kepercayaan rakyat untuk mengatur Negara. Sebuah kemenangan berarti terpilih oleh rakyat untuk mengemban amanat mereka. Itulah alasan mereka berkuasa. Seharusnya mereka berpikir dan bekerja dengan semboyan apa yang bisa saya berikan kepada rakyat, bukan apa yang bisa saya ambil dari rakyat. Lha kalo udah berkuasa justru kemudian mengambil hak rakyat, ngoyak - oyak , nggebugi, nggusur sana sini, apa bukan sewenang - wenang namanya? Sikap sewenang - wenang dekat dengan sikap zalim.

Ingatlah bahwa donya iku mung kanggo mampir ngombe. ( Ingat Bahwa Dunia Itu Hanya Untuk Singgah Minum ) Sebuah episode dari perjalanan panjang hidup kita. Hidup yang sejati adalah yang di akhirat nanti. Di dunia ini, segala sesuatunya bersifat fana, pasti berawal dan berakhir. Manusia diciptakan dari tanah dan akan kembali ke tanah hanya dengan selembar kain kafan, meninggalkan harta, jabatan dan gengsi yang tidak akan menolongnya dari hisab hari akhir. Jadi mengapa harus membanggakan sesuatu yang fana?

Tidak ada komentar: